oleh

Sejarah May Day, Catatan Ketua DPC FSP KEP Kutim

Berita3.net, Sangatta – 1 Mei 1886 di Heymarket, Chicago, Amerika Serikat (AS). Sekitar 30 ribu pekerja di Chicago, turun kejalan bersama anak dan Istri.

Aksi ini membuat kota lumpuh diseluruh penjuru AS, tak kurang dari 350 ribu diorganisasir oleh Federasi Buruh Amerika untuk mogok kerja.

Kaum buruh menyuarakan tuntutan untuk bekerja 8 jam kerja sehari. Kala itu banyak perusahaan yang memaksa buruh bekerja memeras keringat selama 18 jam sehari, buruh yang bekerja tidak sesuai aturan gajinya akan dipotong.

Aksi yang awalnya berjalan damai, lalu berubah terjadi bentrok dan menimbulkan korban.

Pada Juli 1889, diselenggarakan Kongres Sosialis International II di Paris dan Menetapkan 1 Mei sebagai hari libur para buruh. Hal itu kemudian tercatat sebagai perayaan hari buruh pertama kali di dunia.

Di Indonesia, May Day resmi jadi hari libur nasional sejak tahun 2013.
Kali ini May Day diperingati oleh buruh Indonesia dengan penuh ke prihatinan dan kesedihan.

Situasi yg dihadapi buruh Indonesia saat ini adalah pertaruhan nyawa, karena harus bekerja ditengah ancaman virus covid 19 walaupun pemerintah telah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) dan melarang masyarakat utk bepergian dari rumah, namun pengusaha tidak mau tau himbauan pemerintah tersebut, pekerja/buruh tetap harus bekerja mempertaruhkan nyawa demi melaksanakan keinginan perngusaha.

Ancaman PHK oleh pengusaha akibat dampak Covid 19, upah tdk dibayar karena diliburkan, THR akan dicicil, walaupun sdh ada himbauan Pemerintah utk melarang pengusaha melakukan hal tersebut.

Disisi lain pada saat yg bersamaan perjuangan buruh dengan SP/SB berjuang sekuat tenaga untuk menolak RUU Omnibus Law termasuk didalamnya RUU Cipta Kerja , yang akan memperlemah perlindungan terhadap buruh , hkususnya terhadap Waktu kerja ,sistim hubungan kerja, pengupahan, nilai upah, phk dan uang pesangon. Dari tahun ke tahun air mata buruh sudah mengering yang ada hanya air mata darah, karena air mata buruh sudah mengering dimana nasib yang tidak kunjung berubah sepanjang jaman.

Buruh yang sudah ikut membangun negeri ini termasuk memajukan perusahaan yg menjadikan pengusaha menjadi kaya , hanya selalu menjadi korban ketidak adilan dalam situasi apapun, baik dalam situasi pertumbuhan ekonomi dalam keadaan bagus upah tetap murah, kelayakan kerja, job security, jaminan sosial semuanya minim, kebijakan yang tidak memihak buruh apalagi nantinya kalau omnibus law di disahkan seperti draf yang ada saat ini.

Kejadian krisis ekonomi 1997 , buruh jadi korban PHK, daya beli upah buruh semakin menurun akibat nilai inflasi yang sangat tinggi tanpa ada penyesuaian terhadap nilai upah.

Krisis saat ini karena pandemi Covid- 19 diperkirakan jutaan buruh yang akan di PHK tanpa pesangon, mereka dicampakkan begitu saja seolah-olah bukanlah mahluk hidup, pemberitahuan PHK dilakukan dengam vulgar dan degan cara mengumpulkan buruh di halaman perusahaan bagaikan hewan yg akan dimasukan dalam rumah potong yg menunggu gilirannya.

Kalau waktu awal lahirnya May Day, para buruh berjuang untuk memperjuangkan waktu kerja 8 jam, saat ini buruh Indonesia dihadapkan dengan perjuangan yang sama untuk mempertahankan jam kerja 8 jam/hari 40 jam/minggu, yg sdh ditetapkan sejak tahun 1957.

Ancaman RUU Cipta kerja dgn konsep draf yg ada saat ini dengan sistim kerja per jam atau paruh waktu akan mempengaruhi upah buruh dari upah tetap setiap bulan seperti yg sudah diatur saat ini melalui sistim upah minimum berdasarkan upah bulanan, menjadi upah per jam, dan sistim upah dengan konsep upah garis kemiskinan, yang saat ini sedang dibahas di DPR RI.

Wahai kawan kawan pekerja/buruh Indonesia, walaupun saat ini kita dalam memperingati Hari Buruh tidak turun ke jalan seperti tahun tahun sebelumnya, bukan karena semangat kita sudah pudar, tapi karena kita lebih fokus dalam melindungi diri kita dan keluarga dari ancaman serangan Covid 19, supaya kita masih bisa tetap berjuang di hari berikutnya setelah ancaman Covid 19 berakhir dari negeri kita ini.

Walaupun kita tidak aksi turun ke jalan, namun semangat kita tetap membara. Semoga kita selalu dalam Lindungan Tuhan, Allah yg maha Adil dan Kuasa atas segala mahluk ciptaan Nya. SELAMAT HARI BURUH 1 Mei 2020. (Ai)

Basti Sanggalangi.

KetuaDPC FSP KEP Kutim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

BERITA TERKINI