oleh

Sikap Politik HMI & Harapan Kelanjutan Budaya Demokrasi yang Ilmiah

Opini : Ashan Putra Pradana (Ketua HMI Cab. Sangatta )

Berita3.net, Sangatta – Demokrasi memang pantas untuk terus kita gugat dan di pertanyakan ketika sejumlah praktik politik yang mengatasnamakan demokrasi bahkan itu sering memunculkan paradoks dan ironi. Dari hal itu kita bisa melihat jalan demokrasi sangatlah terjal dan dihadapkan pada sejumlah paradoks yang bukan hanya di tingkat institusi, tapi yang tidak kalah penting itu di aspek budaya politiknya.

Di indonesia yang menganut sistem presidensial dengan mekanisme demokrasi yang terbuka mengharuskan adanya tingkat partipasi masyarakat yang lebih luas. Karna tingkat partisipasi ini merupakan kebutuhan logis dalam alam demokrasi. Butuh pijakan epistemologi yang kokoh untuk mengantisipasi terjadinya disparitas diantar konsepsi yang ideal dari sebuah sistem demokrasi, maka dengan sendirinya praktik pendidikan politik bagi masyarakat umum agar lebih terfokuskan padan persoalan” yang subtantif supaya kebijakan” publik baik yang bersifat nasional muapun diskala daerah, yang dihasilkan oleh sebuah industri yang namanya demokrasi itu, sehingga memiliki dampak positif bagi masyarakat secara universal. Berangkat dari konteks itu masyarakat ilmiah harus mampum menelanjangi realitas, serta menelusuri jejak kultur dari pada yang namanya politik. Dan itulah realitas politik hari ini.

Lewat konsensu diatas itulah yang menjadi pijakan bagi masyarakat untuk menghindari subversikan kedalam suatu istilah yang dimaknai sebagai sebuah kompromistis dibelakang layar, negosiasi, konspirasi yang berakhir dibawah kolom meja dan dibalik bilik suara. Apa lagi saat ini masyarakat Kutai Timur diperhadapkan dengan pesta demokrasi atau pilkada sertak seperti sekarang ini; partisipasi, ambil andil, ikut terlibat secara aktif dalam mengawal proses pilkada ini berjalan dengan aman dan tertip, dan terkhusus kaum intelektual karna itu adalah tugas dan tanggungjawab serta pokok pangkal kita  dalam membangun kesadaran secara total dan menyeluruh di dalam memilih pemimpin secara periodik di atas dudukan kepentingan rakyat yang bersifat umum dan bukan atas kepentingan paslon tertentu.

Saya menghimbau kepada seluruh Kader-Kader yang masih berstatus anggota aktif agar tetap berpengang teguh pada Independensi etis HMI, Para aktivis HMI, tidak boleh terjebak secara psikologis atas kesuksesan yang selama ini yang dicapai HMI. Kesuksesan itu tidak boleh dianggapi dengan kepuasan. Sebagai organisasi yang sudah tua, HMI betapapun akan tetap dihitung sebagai political force. Oleh karena itu, HMI harus paham dengan dinamika politik. ini penting untuk memposisikan HMI sebagai subjek politik, dan bukan objek politik. Akan tetapi harus dicatat dengan tegas, bahwa politik HMI adalah politik kemahasiswaan. Politik HMI adalah politik kaum intelektual yang merupakan terjemahan dari kritisisme, etos transformatif, dan di bingkai oleh etika dan moralitas. Karena itu, HMI harus merawat independensi politiknya dihadapan kekuatan apapun serta kedekatan apapun.!!!! (*)

Opini ini merupakan tanggungjawab penulis.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERKINI