Berita3.net, SANGATTA – Lapangan SMAN 2 Sangatta Utara menjadi saksi bergulirnya semangat kompetisi dan gairah sportivitas pada pembukaan SMADA Cup XIII, Jumat (23/1/2026). Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) H Mahyunadi, secara resmi membuka ajang olahraga tahunan tersebut. Diikuti pelajar dari sejumlah sekolah di Kutim dan dirancang sebagai wahana pembinaan minat, bakat, serta karakter generasi muda, khususnya di bidang olahraga.
Kegiatan ini bukan semata perhelatan pertandingan, melainkan panggung pembentukan disiplin, ketangguhan, serta etos juang. Dalam sambutannya, Mahyunadi menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim dalam mendukung aktivitas olahraga di lingkungan pendidikan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia jangka panjang.
“Pemerintah sangat menyambut baik kegiatan olahraga ini. Kalau bisa sering-sering, serta sekolah-sekolah lain bisa melaksanakan kegiatan serupa,” ujar Mahyunadi.
Ia menilai sekolah perlu memiliki momentum evaluatif untuk menakar kapasitas peserta didik secara menyeluruh. Tidak hanya pada ranah akademik, tetapi juga pada wilayah seni, budaya, dan olahraga. Menurutnya, pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari pengalaman kompetitif yang jujur, adil, dan mendidik.
“Sekolah-sekolah lain juga harus melihat momen tertentu untuk mengukur kemampuan anak didik kita. Bukan hanya kemampuan akademik, tapi juga di bidang seni, budaya dan olahraga,” katanya.
Dalam pidatonya, Mahyunadi turut menyinggung pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini merambah berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Ia menggambarkan bagaimana teknologi mampu mempermudah banyak pekerjaan manusia, bahkan dalam aktivitas yang sebelumnya memerlukan keterlibatan langsung tenaga pendidik maupun pelajar.
“Saat ini ada teknologi AI. Teknologi ini bisa membantu pekerjaan kita, saya ambil contoh bila ingin membuat presentasi, kita tinggal minta ke chatgpt. Dalam hitungan detik, presentasi selesai. Banyak kecerdasan buatan yang bisa mewakili manusia dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan sumber daya manusia,” ungkapnya.
Namun, Mahyunadi menegaskan bahwa ada ruang-ruang kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh mesin, salah satunya adalah olahraga. Ruang di mana daya juang, keberanian, ketahanan mental, dan sportivitas diuji secara nyata.
“Kedepan kita akan mengalami seleksi alam yang sangat luar biasa. Yang kuat akan bertahan, yang lemah akan tersingkir. Dan yang bisa membuat manusia menjadi mental baja, petarung, pantang menyerah, pantang mundur adalah kegiatan seperti ini. Di sinilah pembentukan jiwa petarung dan jiwa juara,” tegasnya.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap gagasan memperluas cakupan SMADA Cup maupun kompetisi sejenis dengan melibatkan lebih banyak sekolah, guna memperkaya pengalaman bertanding sekaligus menumbuhkan mental juara di kalangan pelajar Kutim.
“Saya setuju mengundang sekolah lain untuk bertarung dan membangun mental juara sehingga ke depan anak kita semua bisa lolos dari seleksi alam yang sangat ketat ini,” ujarnya.
Meski demikian, Mahyunadi mengingatkan pentingnya menjaga integritas dalam setiap kompetisi agar semangat bertanding tidak tergerus oleh praktik ketidakadilan.
“Terkadang jiwa bertarung kita bisa lemah kalau ada sesuatu hal yang tidak mendukung. Misalnya adanya keterpihakan juri atau tidak adil dalam lomba atau kompetisi,” imbuhnya.
SMADA Cup XIII pun menjadi lebih dari sekadar turnamen olahraga. Ia menjelma sebagai laboratorium karakter. Tempat generasi muda ditempa untuk tangguh, berdaya saing, dan berjiwa kesatria di tengah arus perubahan zaman yang kian kompetitif. (*)






