Fuji : PWI Kutim
Di tengah riuh rendah arus informasi yang berkejaran dengan waktu, profesi wartawan kerap disempitkan maknanya. Ia direduksi menjadi sekadar penyampai kabar, pencatat peristiwa, atau dalam ungkapan yang kerap terdengar sinis “kuli tinta”. Padahal, jika ditelisik lebih dalam, jurnalisme sejatinya adalah sebentuk kerja seni. Ia lahir dari olah rasa, ketekunan pikiran, dan tanggung jawab nurani. Wartawan, dalam seluruh medium, tulis, foto, radio, televisi, cetak, maupun daring adalah seniman yang bekerja dengan fakta sebagai kanvasnya.
Setiap karya jurnalistik adalah hasil perjumpaan antara realitas dan batin penciptanya. Tulisan yang baik tidak hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi mengajak pembaca memahami pentingnya sebuah peristiwa. Diksi yang dipilih, alur yang dirajut, hingga jeda dalam paragraf, bukan perkara kebetulan. Semua adalah keputusan artistik yang lahir dari kesadaran bahwa kata-kata memiliki bobot, bahkan daya gugah. Dalam konteks ini, wartawan tidak sekadar melaporkan kejadian, melainkan menghidupkan makna.
Fotografi jurnalistik pun demikian. Ia bukan semata-mata hasil tekan tombol rana. Di balik satu bingkai foto, terdapat proses kontemplasi panjang. Memilih sudut pandang, menunggu cahaya yang tepat, serta keberanian menekan tombol pada detik yang menentukan. Foto yang kuat mampu berbicara tanpa aksara, menyampaikan getir, harap, atau kegetiran manusia hanya lewat sekelebat bayang dan cahaya. Fotografer jurnalistik bekerja dengan mata yang peka dan hati yang terjaga, sebab setiap bidikan adalah pilihan etis sekaligus estetika.
Videografi, sebagai medium bergerak, menuntut pengorbanan yang tak kalah besarnya. Ada waktu yang diluruhkan demi menanti momen langka, ada risiko yang dihadapi demi merekam peristiwa dari jarak terdekat, dan ada kepekaan artistik agar gambar yang disajikan tidak hanya informatif, tetapi juga nyaman dinikmati mata. Dalam video jurnalistik, seni bertemu disiplin, irama gambar, kesinambungan adegan, hingga kesenyapan yang sengaja dibiarkan berbicara.
Namun, dalam lanskap media yang kian pragmatis, unsur seni ini perlahan tergerus. Kecepatan sering kali menjadi panglima, menggeser kedalaman sebagai esensi makna. Banyak jurnalis, terutama generasi yang tumbuh bersama gawai dan algoritma, terjebak pada kerja yang serba ringkas dan serba segera. Mereka mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa jurnalisme yang baik menuntut lebih dari sekadar memenuhi tenggat. Ia menuntut kesungguhan untuk menjadikan setiap karya sebagai hasil cipta yang bernilai hangat.
Norman Mailer, penulis dan jurnalis Amerika yang dikenal melalui gaya New Journalism, pernah melontarkan kalimat yang kerap dikutip dengan nada getir sekaligus satir, “Jika seseorang tidak cukup berbakat untuk menjadi seorang novelis, tidak cukup pintar untuk menjadi seorang pengacara, dan tangannya terlalu gemetar untuk melakukan operasi, ia dapat menjadi seorang jurnalis.” Di balik ironi itu, tersimpan pengakuan atas kekuatan kata-kata jurnalistik. Mailer seolah mengingatkan bahwa jurnalis memegang senjata yang ampuh, yakni bahasa. Senjata ini bisa membedah kenyataan dengan presisi, tetapi jika digunakan tanpa kebijaksanaan, juga dapat melukai.
Kekuatan serupa ditegaskan John Hersey, pelopor jurnalisme baru yang karyanya Hiroshima menjadi tonggak reportase mendalam. Ia menyatakan, “Jurnalisme memungkinkan pembacanya untuk menyaksikan sejarah, fiksi memberi pembacanya kesempatan untuk menjalaninya,”. Pernyataan ini menegaskan bahwa tulisan jurnalistik mampu menarik pembaca masuk ke pusaran peristiwa, menjadikan mereka saksi yang terlibat secara emosional. Karena itu, setiap kalimat yang ditulis wartawan sesungguhnya adalah belati bermata dua. Dapat menerangi kebenaran, tetapi tanpa nurani juga berpotensi mencederai jika salah diarahkan.
Di sinilah etika bertaut erat dengan seni. Wartawan dituntut bukan hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara moral. Tanpa kesadaran etis, karya jurnalistik mudah tersesat menjadi sensasi hampa. Sebaliknya, dengan nurani yang terjaga, jurnalisme dapat menjadi lentera yang menuntun masyarakat memahami realitas dengan jernih.
Filosofi fotografi mengajarkan hal serupa. Foto bukan sekadar dokumentasi, melainkan medium refleksi. Ia dapat membentuk cara pandang, memengaruhi kebudayaan, bahkan menjadi simbol kebebasan berekspresi. Fotografer yang memahami filosofi ini tidak berhenti pada keindahan visual, tetapi menggali pesan dan perasaan yang tersembunyi di balik momen peristiwa. Setiap foto menjadi dialog sunyi antara subjek, pencipta, dan penikmatnya.
Ketika jurnalisme dan seni bertemu, lahirlah karya yang bukan hanya informatif, tetapi juga bermakna. Tulisan yang berlapis makna, foto yang menggugah empati, dan video yang mengendap di ingatan adalah bukti bahwa kerja wartawan melampaui rutinitas belaka. Ia adalah proses kreatif yang memerlukan kesabaran, cinta, dan karsa.
Pertanyaannya kemudian, setelah memahami semua itu, pantaskah karya jurnalistik dianggap remeh atau biasa saja? Apakah profesi ini layak diperlakukan sekadar sebagai pekerjaan biasa, tanpa ruang bagi perenungan dan penghayatan tanpa makna?
Pada Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026, pertanyaan itu menemukan momentumnya. Hari ini bukan hanya penanda sejarah pers Indonesia, melainkan juga ajakan untuk bercermin. Wartawan diajak kembali menelisik makna profesinya, bukan semata pengumpul fakta, melainkan pencipta karya yang dapat menggerakkan jiwa. Ada semangat yang menuntut insan pers untuk tidak berjalan setengah hati, untuk terus mengasah kepekaan dan memperkaya kosakata batin dari titik nurani.
Di tengah derasnya arus digital dan tuntutan kecepatan, tantangan wartawan justru semakin berat. Mereka dituntut menjaga keseimbangan antara ketepatan fakta dan kedalaman makna, antara kecepatan dan ketelitian, antara keberanian dan kebijaksanaan. Dalam keseimbangan itulah seni jurnalisme menemukan bentuknya.
Wartawan bukan kuli tinta. Ia adalah seniman yang bekerja dengan realitas sebagai bahan baku. Setiap kata yang ditorehkan, setiap gambar yang dibingkai, dan setiap suara yang direkam adalah hasil pergulatan batin. Karya-karya itu lahir bukan demi validasi semata, melainkan sebagai upaya memahami dunia dan membaginya kepada sesama.
Maka, pada peringatan Hari Pers Nasional ini, ajakan itu patut direnungkan, menjalani profesi wartawan tidak dengan cara biasa-biasa saja. Ada panggilan untuk mengulik hati, merawat nurani, dan melahirkan karya yang mampu menggetarkan. Bukan karena gemuruh sensasi, tetapi karena kejujuran dan keindahannya. Di sanalah jurnalisme menemukan martabatnya sebagai seni yang berpihak pada kemanusiaan sekaligus menjaga semesta. (Fj)






