oleh

Kohati Itu Berperan Bukan Baperan

Korps HMI-Wati atau yang biasa disingkat KOHATI merupakan lembaga semi otonom di tubuh HMI yang berdiri pada tanggal 2 Jumadil akhir 1986 H yang bertepatan pada tanggal 17 September 1966 M, dengan tujuan terbinanya muslimah berkualitas insan cita.

KOHATI merupakan wadah bagi HMI-wati untuk membahas isu-isu keperempuanan serta memberikan pemikiran yang solutif terhadap permasalahan perempuan.

Sebagai lembaga semi otonom HMI, KOHATI harus berperan aktif dalam mengembangkan sumber daya organisasi. KOHATI bukan hanya bidang pelengkap dalam HMI tetapi memiliki peranan yang besar dalam tubuh HMI.

Sebagaimana tema dari milad kohati yang ke 53 tahun pada tanggal 17 September 2019 adalah Istiqamah merawat HMI.  Maka di usia ke 53 tahun ini KOHATI harus tetap memegang teguh prinsip independesi ditengah-tengah pergumulan kepentingan di tubuh HMI.

Kohati harus bisa menjadi alarm pengingat bagi HMI agar tetap berada pada khittahnya, serta tetap fokus pada tujuan berdirinya.

Sebagai organisasi keperempuanan, KOHATI harus berada di garda terdepan terkait isu-isu keperempuanan baik di daerah maupun di tingkat nasional. HMI-wati harus menjadi patron bagi perempuan-perempuan di luar sana.

Karena seorang HMI-wati  adalah perempuan-perempuan pilihan yang mampu menyeimbangkan rasa dan rasio agar dapat menjalankan perannya tehadap bangsa dan negara.

HMI-Wati bukanlah perempuan yang hanya mementingkan rasa sehingga tidak mudah untuk terbawa perasaan terhadap segala hal. Tapi mereka penuh pertimbangan dan analisa yang mendalam terhadap situasi dan kondisi sehingga ia mampu menciptakan solusi terbaik dari segala macam permasalahan yang ada.

Meskipun pada dasarnya, kelemahan dan kekuatan perempuan terletak pada hatinya karena sifat Ar Rahim dalam dirinya. Tapi sebagai seorang perempuan yang berkecimpun di HMI dan lebih kecilnya KOHATI. Sudah seharusnya mereka mampu mengendalikan hatinya, mengontrol perasaannya serta meluaskan pemikirannya.

Sebagai seorang perempuan yang diciptakan teramat indah. Pastilah pernah mendapatkan perlakuan istimewa atau perhatian yang berlebihan dari lawan jenis, baik itu dari internal HMI atau dari luar yang memungkinkan munculnya perasaan senang atau tersanjung yang berlebihan. Tapi HMI-Wati bukanlah seseorang yang mudah tergoda dengan retorika lawan jenis.

Fokus seorang HMI-Wati bukanlah sekedar mempercantik diri dengan make up yang tebal tapi harus mempercantik diri dengan pemikirannya yang terbuka karena mereka harus memiliki peran aktif sebagai seorang muslimah  dalam membangun peradaban.

Selain itu seorang HMI-Wati harus menjadi contoh buat perempuan-perempuan diluar sana dalam bersikap atau bertingkah laku. Jadilah perempuan yang selalu tegas namun elegan dimanapun.

Sesungguhnya HMI-Wati di didik untuk memiliki kualitas insan cita agar dapat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Perempuan yang berlebel KOHATI sudah seharusnya paham akan keperempuanannya. Mereka paham bahwa perempuan harus memiliki kesadaran terhadap peran yang harus dimainkan. Mereka menyakini bahwa peran perempuan bukan sekedar di dapur, kasur, dan sumur sebagaimana ajaran patriarki.

Lebih dari itu, perempuan harus keluar dari belenggu patriarki. Perempuan harus memerdekakan diri dan pemikirannya agar dapat menopang peradaban. Karena baik buruknya sebuah negara dipengaruhi oleh baik buruknya perempuan-perempuan di negara tersebut.

Di era post modernisme sekarang ini peran KOHATI sangat diperlukan. Karena banyaknya permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan perempuan, dan hal tersebut tidak boleh luput dari tema-tema diskusi dan gerakan sosial KOHATI.

Berdasarkan Data Simfoni PPA per Maret 2019 menunjukkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 2511 kasus, terdiri dari 638 korban laki-laki, 2.058 korban perempuan.

Sedangkan rasio perempuan korban kekerasan (per 100.000 perempuan) yang cukup tinggi terdapat di 7 (tujuh) provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Utara Aceh, dan Kalimantan Timur.

Lebih parahnya pada tahun 2019 ada kenaikan 14% kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu sejumlah 406.178 kasus. Data tersebut dihimpun dari tiga sumber yakni Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Agama (PA), lembaga layanan mitra komnas perempuan, dan Unit Pelayanan Rujukan (UPR).

Ada beragam kasus Kekerasan yang terjadi di indonesia yaitu  kekerasan di ranah privat (korban dan pelaku berada dalam relasi perkawinan, kekerabatan, atau relasi intim lainnya),Incest (perkosaan oleh orang yang memiliki hubungan darah), Selain incest dan marital rape.

Selain kekerasan yang dilakukan secara langsung penggunaan teknologi untuk menyebarkan konten-konten yang merusak reputasi korban (malicious distribution) juga merupakan kekerasan berbasis cyber dan kekerasan ini dominan terjadi pada tahun 2018.

Kekerasan cyber seperti diatas ditujukan untuk mengintimidasi atau meneror korban, dan sebagian besar dilakukan oleh mantan pasangan baik mantan suami maupun pacar.

Sedangkan Kekerasan di ranah publik (di tempat kerja, institusi pendidikan, transportasi umum, lingkungan tempat tinggal, dll,  dan korban tidak memiliki relasi perkawinan, kekerabatan atau relasi intim lainnya dengan pelaku), masih didominasi oleh kekerasan seksual.

Mengatasi permasalahan di atas bukan cuma tugas pemerintah tapi semua stakeholder harus mengambil peran termasuk KOHATI.

KOHATI tidak boleh diam saja atau bersikap apatis. KOHATI harus memikirkan solusi terbaik untuk menekan angka kasus kekerasan perempuan di Indonesia.

Ruang-ruang diskusi KOHATI harus melahirkan minimal 1 (satu) solusi pencegahan kekerasan terhadap perempuan .  Contohnya ikut andil dalam membedah RUU PKS sebelum di sahkan agar UU PKS nantinya benar-benar dapat menekan angka kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan oleh KOHATI dalam memerdekakan perempuan di Indonesia bahkan di dunia. Kewajiban seorang KOHATI yaitu menjadi perempuan yang berperan demi masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Dan masyarakat adil makmur tidak akan tercapai jika perempuannya masih belum merdeka baik diri maupun haknya.

KOHATI, Melekat kedalam meggapai asa,
Bukan menyerami rasa hingga tak terarah..

Selamat Milad ke 53 Tahun Korps. HMI-Wati.
Jayalah KOHATI
Bahagia HMI
……………………………….
Sri Wisma
Sekretaris Umum Kohati Cabang Sinjai
Periode 2016-2017

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

BERITA TERKINI