Berita3.net, Sangatta– Dibawah Kepemimpinan Asti Mazar, selaku Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) cabang Kutai Timur (Kutim), pihaknya banyak menerima keluhan masyarakat terkait tindak kekerasan terhadap anak.
Dikonfirmasi sejumah awak media diruang kerjanya belum lama ini, Wakil Ketua 1 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim itu mengatakan, bahwa saat ini pihaknya ingin memaksimalkan kehadiran LPAI, sebagai wadah menerima dan menampung keluhan masyarakat, terkait kekerasan pada anak.
“LPAI ini hadir memang sebagai wadah bagi masyarakat, untuk menyampaikan terkait perlindungan hak-ahak anak, pemenuhan hak-hak anak. Ini tentu bagian dari komitmen saya selaku Ketua Umum LPAI Kutim,” tegas Asti Mazar.
“Alhamdulillah, sudah berjalan dua tahunan ini, antusias masyarakat dengan hadirinya LPAI sangat-sangat luar biasa. Karena mungkin selama ini masyarakat mengadukan ke Dinas ataupun Polisi ada rasa canggung, namun di LPAI bisa menjadi wadah untuk menyampilkan keluhan meraka,” sambungnya.
Disinggung mengenai program kerja, dirinya mengaku bahwa saat ini sejumlah program telah dan akan terus berjalan secara beriringan, termasuk membentuk LPAI di 18 Kecamatan dan menghadirkan Kak Seto di wilayah rawan tindak kekerasan anak.
“Jika anggaranya cukup, kami akan melakukan kunjungan di 18 Kecamatan, dalam agenda sosialisasi bagaimana LPAI hadir dalam rangka perlindungan bagi anak-anak kita di Kabupaten Kutim ini. Selain kunjungan, kami juga akan melantik perwakilan LPAI di Kecamatan,” papar politisi Golkar tersebut.
“Sebagai informasi juga, bahwa belum lama ini sekretaris camat Wahau meminta LPAI untuk menghadirkan Kak Seto, pada hari anak bulan Juli ataupun Agustus. Karena banyaknya kejadiankejadian yang menimpah anak-anak di Kecamatan, yang saat ini belum terlalu terdeteksi,” tambahnya.
Terkait dengan kasus kekerasan pada anak, Asti Mazar mengakui bahwa Kecamatan Bengalon menjadi daearh dengan tingkat kekerasan pada anak tertinggi di Kutim. “Saat ini wilayah Bengalon menjadi yang tertinggi. Ini informasi yang kami dapatkan dan bisa saja wilayah lain juga tinggi, namun belum ada laporan yang masuk,” pungkasnya. (adv/bt3_dprdkutim)









