Berita3.net, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mendorong penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian dari upaya mengembangkan ekonomi non-ekstraktif.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengatakan, penguatan UMKM penting dilakukan agar perekonomian daerah tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan dan minyak dan gas (migas).
Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri Inaugurasi Kelompok Meeting Bisnis, Sertinah Tangan Di Atas (TDA), dan workshop bertajuk “Strategi Membantu Bisnis Layak Dilirik dan Didanai” di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Sabtu (26/9/2026).
“Apakah batubara dan minyak bisa sepenuhnya memberikan kesejahteraan dan pemerataan kepada masyarakat? Tentu kita harus terus memberikan dorongan pada sektor ekonomi kreatif dan UMKM,” ujar Ardiansyah.
Menurut dia, struktur perekonomian Kutim mulai menunjukkan pergeseran. Berdasarkan data yang dirilis pada 2026 untuk tahun 2025, kontribusi sektor non-ekstraktif terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kutim disebut telah meningkat.
“Sektor non-ekstraktif kini sudah menyumbang hingga 30 persen terhadap PDRB Kutim. Sektor UMKM, industri rumah tangga, serta pariwisata dan perhotelan menunjukkan tren pergerakan angka yang sangat positif,” katanya.
Ardiansyah meminta perangkat daerah terkait lebih aktif melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM, termasuk membantu mengidentifikasi usaha yang memiliki potensi untuk berkembang.
“Saya selalu memberikan dorongan kepada perangkat daerah, seperti Dinas Koperasi dan UMKM, untuk melihat UMKM mana saja yang berpotensi dan bisa dibantu permodalannya oleh pemerintah,” ujarnya.
Selain perdagangan dan jasa, pemerintah daerah juga mendorong penerapan teknologi dalam sektor pertanian dan peternakan. Ardiansyah menilai keterbatasan lahan tidak seharusnya menjadi hambatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha.
“Petani dan peternak sekarang tidak harus memiliki lahan yang besar. Di lahan sempit pun sekarang bisa dioptimalkan dengan konsep integrated farm dan hidroponik,” kata dia.
Ardiansyah juga mengapresiasi kegiatan mentoring dan pelatihan bisnis yang dilakukan komunitas TDA. Menurutnya, pendampingan semacam itu diperlukan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus melahirkan wirausahawan baru di Kutim.
“Semoga dengan kegiatan ini muncul CEO-CEO baru di Kutim,” ujar Ardiansyah.
Ia kemudian mengaitkan harapan tersebut dengan fenomena drama China yang kerap menampilkan karakter CEO dalam cerita.
“Kalau lihat dracin itu kan CEO-nya sering tersembunyi, tapi jalan ceritanya memberikan semangat. Nah, kita ingin semangat bisnis seperti itu hidup di Kutim,” katanya.
Menurut Ardiansyah, pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu usaha masyarakat berkembang dari skala individu maupun kelompok hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Dengan mentoring, kita bisa membangkitkan ekonomi individu maupun kelompok usaha yang berdampak langsung ke lingkungan sekitar, hingga nantinya produk Kutim siap masuk ke pasar global,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua TDA Sangatta terpilih periode 2026-2029, Nanin, mengatakan kepengurusan baru akan menyelaraskan program TDA Sangatta dengan agenda TDA di tingkat nasional.
“Program yang dilaksanakan di Sangatta akan kita sesuaikan dengan program nasional. Salah satu agenda besar yang siap dilaksanakan tahun depan adalah Pasar Wirausaha,” kata Nanin.
Ia mengatakan, TDA Sangatta juga akan memprioritaskan regenerasi anggota, peningkatan kapasitas bisnis, serta pemanfaatan teknologi digital.
“Saat ini TDA Sangatta berfokus pada regenerasi anggota, peningkatan kualitas kapasitas bisnis, serta integrasi teknologi digital seperti pemanfaatan aplikasi TDA Passport untuk tata kelola keanggotaan dan usaha,” ujar Nanin. (Adv/bt3_diskominfo)
