Berita3.net, BENGALON – Panen perdana ayam pedaging Koperasi Perhiptani Agro Bengalon di Desa Tepian Baru, Kecamatan Bengalon, menjadi langkah awal pengembangan usaha peternakan berbasis koperasi di Kutai Timur (Kutim). Pemerintah daerah mendorong keberhasilan tersebut dilanjutkan dengan penguatan produksi, kemandirian pakan, hingga perluasan akses pasar.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi hadir dalam tasyakuran panen perdana yang digelar Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutim Marhadyn, Kepala Desa Tepian Baru, perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Kutim, Ketua Koperasi Perhiptani Agro Bengalon Luki Harsono, perwakilan PT Kaltim Prima Coal (KPC), serta sejumlah pihak terkait.
Ketua Koperasi Perhiptani Agro Bengalon Luki Harsono mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara koperasi, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan sektor swasta.
Menurut dia, dukungan pemerintah melalui pendampingan dan konsultasi turut membantu koperasi dalam mengembangkan usaha peternakan ayam pedaging.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Wakil Bupati yang hadir langsung, serta Dinas Koperasi dan Dinas Pertanian yang selama ini memberikan bimbingan, konsultasi, dan pendampingan kepada kami,” ujar Luki.
Pengembangan peternakan tersebut juga memperoleh dukungan dari PT Kaltim Prima Coal melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Dukungan itu telah diberikan sejak 2021 hingga pembangunan fasilitas kandang ayam modern rampung dan diserahterimakan pada pertengahan 2026.
Luki menyebut keterlibatan penyuluh pertanian yang tergabung dalam Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kecamatan Bengalon juga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan usaha tersebut.
Meski telah berhasil melaksanakan panen perdana, koperasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya kebutuhan pakan yang hingga kini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Pakan ayam selama ini didatangkan dari sejumlah daerah, seperti Mojokerto, Tangerang, dan Sulawesi. Ketergantungan tersebut berdampak terhadap tingginya biaya produksi.
Karena itu, koperasi mulai menyiapkan langkah untuk memanfaatkan bahan baku lokal sebagai pakan alternatif. Potensi tersebut antara lain berasal dari dedak hasil program cetak sawah seluas 300 hektar di Bengalon dan bungkil kelapa sawit dari sejumlah pabrik kelapa sawit di sekitar wilayah tersebut.
“Kami ingin mengembangkan pakan alternatif dengan memanfaatkan potensi lokal. Ini penting agar biaya produksi dapat ditekan dan usaha peternakan menjadi lebih mandiri,” katanya.
Selain pakan, aspek pemasaran menjadi perhatian berikutnya. Koperasi berencana secara bertahap mengubah pola penjualan ayam hidup melalui pedagang perantara menjadi produk ayam potong beku atau frozen chicken.
Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang bagi ayam produksi koperasi untuk masuk ke pasar modern dan jaringan ritel yang lebih luas.
Mahyunadi mengapresiasi langkah Koperasi Perhiptani Agro Bengalon yang mulai mengembangkan usaha peternakan dengan pendekatan kelembagaan. Menurutnya, panen perdana tersebut menunjukkan koperasi memiliki peluang besar menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa.
“Pemerintah Kabupaten Kutim sangat mendukung langkah progresif yang ditunjukkan oleh Koperasi Perhiptani Agro Bengalon. Ini contoh konkret bagaimana inovasi peternakan yang dikelola secara profesional dan berjejaring dapat memperkuat ketahanan pangan regional kita,” kata Mahyunadi.
Ia berharap usaha tersebut tidak berhenti pada panen perdana, tetapi terus berkembang dari sisi kapasitas produksi, efisiensi biaya, hingga pemasaran.
Mahyunadi juga mendorong pola pengembangan usaha berbasis koperasi tersebut dapat diterapkan di wilayah lain di Kutim dengan menyesuaikan potensi masing-masing kecamatan.
“Potensi setiap wilayah di Kutim sangat besar jika dikelola melalui wadah koperasi. Karena itu, pola seperti ini harus terus kita dorong agar berkembang dan dapat direplikasi di daerah lain,” ujarnya.
Menurut Mahyunadi, sinergi antara pemerintah, koperasi, masyarakat, penyuluh, dan dunia usaha menjadi kunci agar usaha peternakan dapat tumbuh secara berkelanjutan. Dengan penguatan produksi, kemandirian pakan, serta akses pasar yang semakin luas, koperasi diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat Bengalon sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kutim. (Adv/bt3_diskominfo)
