Bupati Ardiansyah Dorong STIPER Kutim Adaptif terhadap Perubahan Industri

Berita3.net, SANGATTA – Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur, Kalimantan Timur, memperkuat pendidikan vokasi dan penelitian untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan energi di daerah.

Penguatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam audiensi Ketua STIPER Kutim Fahmi bersama sejumlah dosen dengan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di ruang kerja Bupati, Jumat (25/9/2026).

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas pengembangan tiga fungsi utama perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya diarahkan agar semakin terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan daerah.

Fahmi mengatakan, saat ini STIPER Kutim memiliki 643 mahasiswa dan 49 dosen. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 dosen telah memiliki sertifikasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Fahmi, kapasitas tersebut menjadi modal bagi STIPER untuk mengembangkan pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan tenaga kerja, khususnya di sektor yang menjadi kekuatan ekonomi Kutai Timur.

Salah satu program yang tengah dijajaki adalah pembukaan kelas vokasi Diploma Satu melalui kerja sama dengan GIZ dan STIPER Yogyakarta. Program tersebut ditujukan untuk menghasilkan lulusan dengan keterampilan praktis dan sertifikasi yang dibutuhkan industri perkebunan kelapa sawit.

Lulusan program vokasi tersebut nantinya diharapkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan perkebunan, termasuk perusahaan yang menerapkan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

GIZ atau Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit merupakan lembaga kerja sama pembangunan internasional asal Jerman yang antara lain bergerak dalam penguatan keterampilan dan pendidikan vokasi. Kolaborasi itu diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja di industri.

Fahmi juga menyebut lulusan program vokasi berpeluang memperoleh dukungan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Peluang tersebut ditargetkan mulai terbuka paling cepat tahun depan bagi peserta yang memenuhi persyaratan.

Selain perkebunan, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman meminta STIPER mulai mempersiapkan kompetensi mahasiswa dan lulusan untuk menghadapi perkembangan industri energi di daerah.

Salah satu peluang tersebut berkaitan dengan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) di Bengalon. Proyek tersebut dirancang mengolah batu bara berkalori rendah menjadi metanol sebagai bagian dari agenda hilirisasi energi.

“STIPER harus menyiapkan orang-orang yang mampu bekerja pada industri yang akan berkembang di Kutai Timur, termasuk gasifikasi dan metanol di Bengalon,” kata Ardiansyah.

Menurut Ardiansyah, perguruan tinggi juga perlu memberi ruang lebih besar bagi penelitian energi alternatif. Salah satu yang dapat dikembangkan adalah bioetanol dengan memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku energi.

Pengembangan bioetanol, kata dia, dapat menjadi titik temu antara sektor pertanian dan energi. Penelitian dapat dilakukan mulai dari pemilihan bahan baku, budidaya, teknologi pengolahan hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Ardiansyah menilai pendidikan dan penelitian perlu bergerak lebih cepat mengikuti perkembangan industri dan teknologi. Dengan demikian, ketika investasi dan industri baru berkembang, masyarakat lokal telah memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mengambil bagian.

“Fokus kita mendukung program nasional untuk ketahanan energi,” tegasnya.

Pemkab Kutim berharap penguatan pendidikan vokasi dan penelitian di STIPER tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi yang dapat mendukung pengembangan sektor pertanian, perkebunan, dan energi di Kutai Timur. (Adv/bt3_diskominfo)