Berita3.net, SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mendorong Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kutim memperluas gerakan literasi agar tidak hanya berfokus pada kegiatan membaca buku, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat di era digital.
Hal itu disampaikan Ardiansyah saat menghadiri pelantikan pengurus GPMB Kutim periode 2026-2030 yang digelar bersamaan dengan pembukaan Gebyar Literasi Kutim 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara, Jumat (25/9/2026).
Kepengurusan GPMB Kutim periode 2026-2030 dipimpin Nurul Mutia Karim. Pengurus dilantik oleh Ketua GPMB Provinsi Kalimantan Timur Syafruddin Pernyata dan disaksikan Ardiansyah, Bunda Literasi Kutim Siti Robiah, serta perwakilan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas dan pegiat literasi.
Ardiansyah mengatakan, literasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca tulisan dalam buku. Menurut dia, literasi juga berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi, melihat perubahan, memperluas wawasan, serta membaca kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Literasi tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membaca tulisan dalam sebuah buku. Lebih dari itu, literasi menjadi kemampuan untuk memahami informasi, melihat perubahan, memperluas wawasan, serta membaca berbagai kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar,” kata Ardiansyah.
Ia mengibaratkan keterbatasan literasi seperti seseorang yang berada di dalam ruang sempit. Pengetahuan yang diperoleh akan terbatas pada apa yang ada di sekitarnya apabila tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melihat perkembangan di luar ruang tersebut.
Karena itu, Ardiansyah berharap GPMB dapat menjadi salah satu penggerak yang mendekatkan budaya literasi kepada masyarakat. Kelompok anak-anak dan generasi muda, kata dia, perlu mendapat perhatian karena akan menjadi bagian penting dalam menentukan masa depan daerah.
“GPMB Kutim mampu menjadi penggerak yang semakin mendekatkan budaya literasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda sebagai kelompok yang akan menentukan arah masa depan daerah,” ujarnya.
Menurut Ardiansyah, perkembangan teknologi turut mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan pengetahuan. Bahan bacaan tidak lagi hanya tersedia dalam bentuk buku atau lembaran kertas, tetapi dapat diakses melalui berbagai platform digital.
“Minat baca itu kadang kala kita tidak hanya fokus kepada lembar-lembar kertas yang tertulis, tetapi sekarang lembaran bacaan itu bisa melalui digital dan sebagainya,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan literasi tidak semestinya hanya diarahkan untuk meningkatkan angka indeks literasi. Lebih penting dari itu, gerakan literasi harus memberikan dampak terhadap kualitas masyarakat melalui kebiasaan belajar, kemampuan menyerap informasi, serta keterbukaan terhadap perkembangan lingkungan.
Ardiansyah juga menilai pengalaman sehari-hari dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Interaksi sosial, lingkungan, maupun berbagai peristiwa yang ditemui masyarakat dapat menjadi sumber pengetahuan apabila diamati dan dipahami dengan baik.
“Tidak ada batasan. Semua yang ada ini kita baca. Baik yang ada di buku, maupun yang ada di lapangan, di depan, di belakang, samping kiri-kanan, di atas, di bawah, itu semua bacaan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua GPMB Provinsi Kaltim Syafruddin Pernyata mengatakan, GPMB memiliki posisi strategis dalam membangun budaya baca sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan literasi.
“GPMB memiliki posisi strategis dalam membangun budaya baca sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas literasi,” ujarnya.
Menurut dia, gerakan literasi tidak cukup berhenti pada ajakan membaca. Literasi juga perlu diarahkan untuk membangun kebiasaan belajar, meningkatkan wawasan, serta mendorong masyarakat terlibat aktif dalam berbagai aktivitas pengetahuan.
Pelantikan pengurus GPMB Kutim periode 2026-2030 menjadi momentum untuk memperkuat gerakan literasi di daerah. GPMB diharapkan mampu menghadirkan program yang inovatif, inklusif, dan menyesuaikan dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat.
Ardiansyah berharap kepengurusan baru GPMB Kutim dapat menjalankan perannya secara konsisten sehingga budaya membaca dan belajar semakin tumbuh di tengah masyarakat.
“Selamat kepada GPMB. Mudah-mudahan bisa mengantarkan anak-anak kita untuk lebih baik lagi,” pungkasnya.
Melalui sinergi pemerintah, dunia pendidikan, perpustakaan, komunitas, penerbit, pegiat literasi dan masyarakat, gerakan literasi di Kutim diharapkan tidak hanya tumbuh melalui buku, tetapi juga melalui berbagai sumber pengetahuan yang tersedia di era digital. (Adv/bt3_diskominfo)
