Berita3.net, SANGATTA – Setelah menggelar kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila – Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5 – PPRA) Hasil Karya Kreatifitas dan Inovasi di Kampus 1 Gang Musholla, Senin (13/5/2024, keesokan harinya MIN 1 Kutai Timur (Kutim) kembali menggelar kegiatan serupa di Kampus 2 Jalan Kenyamukan Sangatta Utara. Mengangkat tema “Kearifan Lokal” dibuka langsung oleh Kasi Bimas Islam H Syarifuddin Nur mewakil Kepala Kantor Kemenag Kutim Akhmad Berkati, Selasa (14/5/2024) pagi.
Tampak hadir dalam acara, Kepala MIN 1 Kutim Sirajuddin, PKK Kecamatan Sangatta Utara, PKK Desa Sangatta Utara, Babinsa Teluk Lingga, Kepala KUA Sangatta Utara, Kepala Sekolah SDN 011, 012 dan 015 Sangatta Utara, para orang tua siswa dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Kasi Bimas Islam Kemenag Kutim H Syarifuddin Nur, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan P5 – PPRA di MIN 1 Kutim. Ia menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, para siswa dapat berinovasi dan berkreativitas secara bebas dan aktif.
“Atas nama Kementrian Agama Kutim memberikan apresiasi yang tinggi dan penghargaan yang sebesar besarnya kepada MIN 1 Kutim karena telah melaksanakan kegiatan P5 – PPRA,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dengan tema “Kearifan Lokal” ini, para siswa dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budayanya. Ia menyoroti bahwa saat ini, budaya lokal terancam oleh dampak perkembangan teknologi, sehingga penting bagi siswa untuk memperkokoh identitas budaya mereka.
“Semoga MIN 1 Kutim ini semakin berkembang dan maju di masa yang akan datang,” harapnya.

Sebelumnya, Kepala MIN 1 Kutim Sirajuddin menjelaskan bahwa P5 – PPRA merupakan implementasi dari Kurikulum Merdeka yang memberikan kebebasan kepada semua anak-anak dan guru-guru untuk mengembangkan kreativitas mereka sesuai dengan bakat dan minat individu masing-masing.
“Kali ini kita mengangkat tema kearifan lokal. Maksudnya produk yang ditampilkan mengusung nuansa lokal atau daerah. Namun, penting untuk dicatat bahwa daerah yang ditampilkan tidak terbatas pada Kutai Timur saja, melainkan mencakup daerah mana pun sesuai dengan kreativitas anak-anak. Seperti tarian dari Kalimantan Timur dan Sumatra (Batak) yang dimodifikasi menjadi penampilan yang bernuansa Islami,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan dalam pelaksanaan P5 – PPRA, terdapat empat hal utama yang akan dikembangkan. Pertama, melatih sikap kritis anak-anak agar mereka dapat merespons perkembangan dengan bijaksana. Kedua, mengembangkan sikap kreatif sehingga anak-anak dapat mengaktualisasikan bakat dan minat mereka secara produktif.
“Ketiga, membangun kemampuan komunikasi yang baik, dan keempat, memupuk semangat kolaborasi dan kerjasama dalam tim sehingga mereka dapat bekerja sama dengan efektif,” jelasnya. (Adv/bt3/An)









