Berita3. Net, SAMARINDA – Dalam hidup, ada dua jenis orang: yang bertanding untuk menang, dan yang bertanding untuk sekadar memastikan raket dan bet tidak berdebu. Rahman, Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Kutai Timur, dengan gagah berani memutuskan menjadi jenis yang kedua di ajang Pekan Olahraga Daerah (PORWADA) Kalimantan Timur yang kedua tahun 2024 yang bertempat di Samarinda.
Dengan senyum lebar dan semangat seperti pemain profesional yang lupa bawa sepatu, ia turun di dua cabang olahraga sekaligus: bulutangkis dan tenis meja. Kedengarannya ambisius, bukan? Tapi bagi Rahman, niat bertanding ini bukan soal medali atau piala. “Target saya sederhana, yang penting ketawa bareng, sehat, dan nggak cedera, itu saja,” katanya sambil tertawa lepas, di Gedung bulutangkis KNPI Samarinda, Sabtu (07/12/24).
Babak Bulutangkis: Langkah Ajaib yang Melemahkan Teman.
Langit di arena bulutangkis PORWADA cerah, tetapi langkah Rahman di lapangan lebih ceria lagi. Ia melangkah ke tengah arena dengan gaya khasnya campuran percaya diri seorang atlet nasional dan kelucuan pelawak lokal.

Dengan ayunan raket yang penuh gaya, ia melesakkan pukulan ke sisi yang kosong. “Astaga, itu padahal posisi tidak ada orang mas, tapi sayangnya diluar lapangan,” ujarnya dengan ekspresi serius yang mengundang gelak tawa.
Tak lama kemudian, terjadi momen ikonis. Rahman, yang berusaha mengembalikan kok lawan, justru harus menerima pukulan telak kearah kepala, karena kok yang ia kembalikan membuat posisi smash sempurna untuk kubu lawan yakni peserta yang berasal dari Bontang.
“Hampir saya tadi dibawa ke RS A Wahab Syahranie, saya sudah lapor ke Pak Wardi Ketua PWI Kutim, katanya aman saja,” ucapnya sambil tertawa.
Di cabang bulutangkis terutama di PWI Kutai Timur, Rahman dikenal dengan “langkah ajaib” yang sulit ditebak termasuk oleh dirinya sendiri. Lawan yang tadinya bersiap dengan penuh strategi justru bingung menghadapi gerakan-gerakan Rahman yang lebih mirip tarian pengantin baru.
“Setidaknya, saya berhasil bikin mereka lupa strategi,” katanya sambil terkekeh.
Pertandingan bulutangkis ini pada set pertama akhirnya dimenangkan oleh pasangan atlet Bontang dengan skor telak 5-21, namun ketegangan akan baru akan dimulai dibabak kedua. Suara shuttlecoc melayang cepat, disusul dentingan raket yang memukul angin kosong, memecah kesunyian arena. Di satu sisi lapangan, Rahman berdiri dengan ekspresi serius, alisnya berkerut, kakinya sedikit gemetar bukan karena takut, tetapi karena mencoba mengingat apa yang baru saja dia pelajari di tutorial YouTube pagi tadi.
Pukulan lawan melesat, kok terbang melintasi net seperti peluru. Rahman mengayunkan raketnya dengan penuh semangat, tetapi yang terjadi hanyalah bunyi “whoosh” ketika raketnya menebas udara. Rekan satu timnya terdiam sejenak, sebelum akhirnya pecah dalam gelak tawa.
Rahman tidak menyerah dengan gaya khasnya, ia merosot rendah, hampir menyentuh lantai, mencoba mengembalikan kok yang meluncur ke sudut lapangan. “Aduh, ini kok seperti dikasih turbo!” ucapnya, sambil bangkit dengan susah payah.
Meski telah berusaha maksimal hasil akhir pertandingan ini sudah bisa tertebak, walaupun pada set kedua ada sedikit perlawan yang dilakukan oleh Rahman dan rekan timnya. Namun pengumuman wasit menyatakan hasil akhir 10-21, yang membuat pasangan ganda putra dari Bontang melaju ke babak selanjutnya.
Tenis Meja: Putaran Bola Mematikan yang Tak Bisa Dikembalikan.
Jika bulutangkis adalah panggung kelucuan Rahman, tenis meja adalah babak kedua dari komedi yang tak kalah menghibur. Di sini, Rahman berhadapan dengan peserta dari Kutai Barat, yang dikenal memiliki teknik mematikan.
“Servisnya itu loh. Bola dipukul ke saya, tapi kayak nggak niat balik lagi. Putar-putar terus sampai saya bingung,” ujar Rahman, mengingat momen tersebut dengan wajah geli.
Tak lama setelah pertandingan dimulai, dirinya langsung menunjukkan ‘tekniknya’ yang tak biasa. Bet yang dipegangnya lebih sering memantulkan bola ke arah yang salah, bahkan beberapa kali juga ke luar arena. Namun, ini tak membuatnya menyerah.
“Saya sengaja bikin bola ke luar, Mas. Biar lawan saya juga olahraga, jalan-jalan cari bola,” ujarnya sambil tersenyum.
Momen keseruan muncul terjadi saat Rahman tak bisa mengembalikan servis mematikan pasangan Kubar. Alih-alih gelisah, ia justru bertepuk tangan sambil mengangkat kedua tangan, seolah sedang merayakan kemenangan imajiner.
Bukan hanya lawan yang membuat pertandingan itu seru sekaligus sulit, tetapi juga ulah rekan satu tim Rahman sendiri. Rupanya, partnernya di tenis meja lebih terbiasa dengan meja kerja daripada meja pingpong. “Dia tuh nggak ngerti aturan, Mas. Kadang servis saja minta saya terus yang ambil, padahalkan ini ganda harusnya servis bergantian, Ya saya cuma bisa ketawa,” tuturnya.
Suasana pertandingan cabang olahraga tenis meja di Kantor Dinas PUPR Kaltim
Meski penuh drama antara rahman dan rekan satu timnya namun pertandingan berlangsung sengit. Peserta dari Kutai Barat melakukan servis dengan teknik tinggi, bola meluncur cepat dan berputar seperti balerina yang menari di panggung.

Rahman berusaha keras mengembalikan bola, tetapi gravitasi, gesekan udara, dan mungkin nasib baik tampaknya tidak berpihak padanya. Bola itu memantul dengan gerakan yang mustahil ditebak, meleset dari jangkauan Rahman, hal tersebut membuat hasil pertandingan akhirnya dimenangkan Kubar 2-0 tanpa balas.
“Masya Allah, susah banget bolanya, gerakannya susah ditebak!” ucapnya sambil terkekeh, mencoba menginat kembali moment tersebut.
Gembira di Tengah Kekalahan yang Menyehatkan.
Ketika ditanya soal performanya yang, yah, sedikit di bawah rata-rata, Rahman punya jawaban sederhana. “Umur sudah tua, stamina terbatas. Saya ikut PORWADA ini bukan buat menang, tapi buat cari senang.”
Meski pulang tanpa medali, Rahman tetap menjadi pemenang di mata teman-temannya. Keberadaannya di PORWADA membuat suasana lebih hidup. “Saya suka semangat dia. Walaupun kalah, dia selalu punya cara buat bikin kita semua ketawa,” ujar salah satu rekan timnya.
Rahman pun menutup perjalanan PORWADA-nya dengan pesan penuh makna. “Olahraga itu buat kesehatan, bukan buat stres. Kalau kalah bikin kamu stres, ya mendingan dari awal niatnya buat senang-senang aja. Saya mah alhamdulillah, kalah semua, tapi bahagia terus!”
Dan begitulah Rahman mengajarkan kita arti sejati dari sebuah pertandingan bukan soal menang atau kalah, tapi tentang tertawa bersama dan menikmati perjalanan dan sungguh, Rahman membuktikan bahwa dalam olahraga, terkadang tertawa bersama teman jauh lebih berarti daripada sekadar meraih medali.
Di akhir PORWADA, Rahman tetap menjadi pemenang bukan di podium, tapi di hati teman-temannya. (Erwin_PWI_Kutim)









